A. Sistem Nomenklatur
Pada akhir abad 19
ahli kimia organic memutuskan untuk mensistematikan tata nama organic untuk
menghubungkan nama senyawa dan strukturnya. System tata nama yang telah
dikembangkan disebut nama jenewa atau
system IUPAC.
Parent: Rantai induk
Prefix (cabang):
Rantai atom karbon paling panjang, menggambarkan struktur utama, dilihat dari
monosiklik, disiklik dan lain-lain.
Suffix (akhiran): ana,
ena, dan una.
Sistem tata nama IUPAC
didasarkan pada nama alkana rantai lurus sebagai induk. Jika sebuah rantai
hidrokarbon membentuk sebuah cincin, dibubuhkan awal siklo pada nama alkana.
Percabangan dan gugus fungsional dinyatakan oleh awalan atau akhiran. Rantai lurus
terpanjang yang mengandung gugus fungsional (jika ada) dijadikan induk. Rantai
itu dinomori mulai dari ujung yang lebih dekat ke cabang atau ke gugus
fungsional (gugus fungsional dengan prioritas tinggi, seperti gambar.
1. Tata nama alkana
Alkana dapat digambarkan
dengan rumus umum CnH2n+2. Sementara Gugus alkil
(yakni gugus subtituen/ cabang dari rantai utama dibentuk dengan menghapus satu
hidrogen dari rantai alkana dan digambarkan dengan rumus CnH2n+1 ,
dengan penamaan dari -ana ke -il.
Berdasarkan aturan penamaan
IUPAC:
1. Alkana
tak bercabang pemberian nama sistematik
sesuai gambar di atas sedangkan untuk nama umum ditambah n (normal) untuk alkana yang tidak bercabang.
CH3 CH2 CH2 CH2
CH3 : n-pentana
2. Untuk
alkana yang rantainya bercabang, rantai utamanya adalah rantai dengan jumlah
atom C terpanjang. Gugus yang terikat pada rantai utama disebut substituent(cabang). Cabang
yang diturunkan dari suatu alkana dengan mengurangi satu atom H disebut gugus alkil. Gugus alkil memiliki
rumus umum -CnH2n+1 dan dilambangkan dengan –R.
Pemberian nama gugus alkil sesuai dengan nama alkana, tetapi mengganti akhiran -ana pada alkana asalnya dengan
akhiran –il.
3. Rantai
terpanjang dinomori dari ujung yang paling dekat dengan substituent (cabang)sehingga rantai cabang memberikan
nomor yang sekecil mungkin. Pada pemberian nama, hanya nomor atom karbon rantai
utama yang mengikat substituen dituliskan kemudian diikuti nama susbstituen
(cabang).
4. Jika
terdapat lebih dari satu subtituen yang sama, maka nomor masing-masing atom
karbon rantai utama yang mengikat substituen semuanya harus dituliskan. Jumlah
substituen ditunjukan dengan awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan
seterusnya, yang berturut-turut menyatakan jumlah substituen sebanyak dua,
tiga, empat, lima dan seterusnya. Penomoran tetap dimulai dari ujung yang
paling dekat dengan substituen.
5 5. Jika
terdapat dua atau lebih sustituen yang berbeda, maka dalam penulisan nama
disusun berdasarkan urutan abjad huruf pertama dari nama substituen. Penomoran
rantai utama dimulai dari ujung rantai yang nama substituen berdasarkan urutan
abjad lebih awal. awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan seterusnya tidak
perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad.
2. Tata Nama Senyawa Alkena
Alkena adalah hidrokarbon tak
jenuh adalah hidrokarbon yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap dua
(-C=C-) dengan rumus umum CnH2n. Yang dimaksud dengan
hidrokarbon tak jenuh
Untuk penamaan senyawa alkena
hampir sama dengan Alkana, seperti berikut:
- Rantai utama harus mengandung ikatan rangkap dan dipilih yang terpanjang. Serta nama rantai utama juga mirip dengan alkana dengan mengganti akhiran -ana dengan -ena.
- Rantai utama alkena merupakan rantai dengan jumlah atom C terpanjang yang melewati gugus ikatan rangkap dan atom C yang mengandung ikatan rangkap ditunjukan dengan nomor.
- Nomor posisi ikatan rangkap ditulis di depan nama rantai utama dan ikatan rangkap diberi nomor serendah mungkin.
- Urutan nomor posisi rantai cabang sama seperti
urutan penomoran ikatan cabang rantai utama.
- Rantai induk : pentena (jumlah atom C pada rantai utama ada 5)
- Nomor ikatan rangkap dua : 1
- Gugus alkil : 3-etil-4-metil
Jadi nama senyawa ini
adalah : 3-etil-4-metil-1-pentena
3. Tata Nama Senyawa Alkuna
Alkuna merupakan senyawa
hidrokarbon tak jenuh yang memiliki 1 ikatan rangkap 3 (–C≡C–). Sifat-nya
sama dengan Alkena namun lebih reaktif, dengan rumus umumnya CnH2n-2.
Alkuna rantai lurus namanya sama dengan alkana atau alkena, hanya akhiran diganti dengan -una-.
Alkuna rantai lurus namanya sama dengan alkana atau alkena, hanya akhiran diganti dengan -una-.
Contoh:
- C3H4 : propuna
- C5H8 : pentuna
- C4H6 : butuna
Untuk alkuna rantai bercabang
Urutan penamaan adalah:
- Memilih rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang yang mengandung ikatan rangkap tiga.
- Penomoran alkuna dimulai dari salah satu ujung rantai induk, sehingga atom C yang berikatan rangkap tiga mendapat nomor terkecil.
B. Isomer Struktural
Isomer adalah molekul yang memiliki
rumus molekul sama, tetapi memiliki pengaturan yang berbeda dari atom dalam
ruang. ( sifat kimia dan fisikanya berbeda). Dalam isomer struktur, atom diatur
dalam urutan yang sama sekali berbeda. Hal ini lebih mudah untuk melihat dengan
contoh-contoh spesifik.
Jenis-Jenis
Isomer Struktur
·
Isomer rantai
Isomer ini muncul karena kemungkinan percabangan rantai karbon. Sebagai contoh, ada dua isomer dari butana, C4H10. Dalam salah satu dari mereka, atom karbon terletak pada “rantai lurus” sedangkan yang lain rantai bercabang.
Isomer ini muncul karena kemungkinan percabangan rantai karbon. Sebagai contoh, ada dua isomer dari butana, C4H10. Dalam salah satu dari mereka, atom karbon terletak pada “rantai lurus” sedangkan yang lain rantai bercabang.
·
Isomer posisi
Dalam isomer posisi , kerangka karbon dasar tetap tidak berubah, namun kelompok-kelompok penting yang berpindah-pindah pada kerangka itu. Sebagai contoh, ada dua isomer struktural dengan rumus molekul C3H7Br. Dalam salah satu dari mereka atom bromin di ujung rantai, sedangkan yang lain itu melekat di tengah.
Dalam isomer posisi , kerangka karbon dasar tetap tidak berubah, namun kelompok-kelompok penting yang berpindah-pindah pada kerangka itu. Sebagai contoh, ada dua isomer struktural dengan rumus molekul C3H7Br. Dalam salah satu dari mereka atom bromin di ujung rantai, sedangkan yang lain itu melekat di tengah.
Contoh lain yang serupa terjadi pada
alkohol seperti C4H9OH
·
Isomer Fungsional
Isomer mengandung gugus fungsional yang berbeda yaitu,
mereka milik keluarga yang berbeda dari senyawa (seri homolog yang berbeda). Sebagai
contoh, rumus molekul C3H6O dapat berupa propanal (aldehid) atau propanon
(keton).
Ada kemungkinan lain juga untuk formula ini molekul yang sama – misalnya, Kita bisa memiliki ikatan karbon-karbon gkita (alkena) dan -OH (alkohol) dalam molekul yang sama.
Contoh lainnya digambarkan dengan rumus C3H6O2 molekul. Di antara beberapa isomer struktural ini asam propanoat (asam karboksilat) dan metil etanoat (ester).
Struktur
alkana dapat berupa rantai lurus atau rantai bercabang. Alkana yang mengandung
tiga atom karbon atau kurang tidak mempunyai isomer seperti CH4, C2H6 dan
C3H8 karena hanya memiliki satu cara untuk menata
atom-atom dalam struktur ikatannya sehingga memilki rumus molekul dan rumus
struktur molekul sama. Perhatikan gambar di bawah ini:

Dalam senyawa alkana juga ada yang rumus molekulnya sama, tetapi rumus struktur molekulnya berbeda. Mulai dari alkana dengan rumus molekul C4H10 mempunyai dua kemungkinan struktur ikatan untuk menata atom-atom karbonnya seperti di bawah ini:
Dalam senyawa alkana juga ada yang rumus molekulnya sama, tetapi rumus struktur molekulnya berbeda. Mulai dari alkana dengan rumus molekul C4H10 mempunyai dua kemungkinan struktur ikatan untuk menata atom-atom karbonnya seperti di bawah ini:
Atau jika diungkapkan
dalam bentuk model molekul
Perbedaan
antara senyawa n-butana (baca: normal butana) dengan metil propana adalah pada
kerangka rantai karbonnya. Rantai n-butana tidak bercabang, sedangkan metil
propana rantainya bercabang pada atom C-2. Perbedaan struktur kedua senyawa
tersebut mengakibatkan kedua sifat, di mana titik didih n-butana adalah -0,4oC
sedangkan titik didih metil propana adalah -11,6oC.
Untuk
pentana (C5H12) memiliki tiga kemungkinan struktur ikatan
untuk menata atom-atom karbonnya yaitu:
Kita
dapat menyimpulkan dari 2 contoh di atas bahwa semakin bertambah jumlah atom C
pada rumus molekul suatu alkana maka semakin banyak isomernya seperti yang
tertera ditabel bawah ini:
|
Jumlah
atom C
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
15
|
20
|
|
|
Rumus
molekul
|
C4H10
|
C5H12
|
C6H14
|
C7H16
|
C8H18
|
C9H20
|
C10H22
|
C15H32
|
C20H42
|
|
|
Jumlah
isomer
|
2
|
3
|
5
|
9
|
18
|
35
|
75
|
4.347
|
366.319
|
|
Tabel berikut menunjukan
perbedaan titik didih dan titik lebur dari isomer senyawa heksana.
Tabel: titik didih dan
titik lebur isomer heksana (C6H14)
|
Struktur
|
Nama
|
Titik
didih (oC)
|
Titik
lebur (oC)
|
|
CH3-CH2-CH2–
CH2-CH2-CH3
|
n-heksana
|
69
|
-95
|
|
2-metil
pentana
|
60
|
-154
|
|
|
3-metil
pentana
|
63
|
-118
|
|
|
2,2-dimetil
butana
|
50
|
-98
|
|
|
2,2-dimetil
butana
|
58
|
-129
|